Makna Gerakan Tari Serampang Duabelas, Mulai dari Pertemuan Pertama Hingga Pernikahan

INDEKSMEDIA.ID – Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan adat istiadat.

Kekayaan tersebut merupakan aset bangsa yang sangat berpotensi dan bernilai tinggi di mata dunia.

Indonesia secara spesifik memiliki beraneka ragam suku bangsa yang masing-masing memiliki budaya, adat istiadat dan tradisi yang berbeda yang terus diwariskan secara turun temurun, salah satunya adalah seni tari.

Setiap suku bangsa mempunyai gerak khusus yang digunakan untuk mengekspresikan diri.

Melayu dikenal sebagai suku yang memiliki ragam gerak yang rancak dan beragam, diantaranya adalah Tari Serampang XII.

Tari Serampang XII merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang.

Tarian ini diciptakan oleh Almarhum Guru Sauti. Sebelum bernama Serampang XII, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.

Penamaan Tari Serampang XII merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih.

Adapun tempo Tari Serampang XII adalah quick step atau 3/8. Tarian yang mendapat pengaruh dari tari dan lagu Portugis, namun ada juga yang menyebutkan berasal dari Spanyol.

Oleh karena langkahnya hidup serta menggembirakan, dan Para penarinya dapat menunjukkan kesigapan, gaya dan keindahan seni tari, maka tarian ini diterima oleh masyarakat di sumatera Timur (Tari Melayu Tradisional, 2011:85).

Tari Serampang XII berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan pemuda.

Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan.

Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya.

Nama Tari Serampang XII sebetulnya diambil dari dua belas ragam gerakan taxi yang bercerita tentang tahapan-tahapan proses pencarian jodoh hingga memasuki tahap perkawinan (Tari Melayu Tradisional, 2011:86) yaitu:

– Ragam I adalah taxi permulaan, maksudnya “pertemuan pertama”. Menari di tempat tegak bermula, berpusing dengan melonjak ke kanan menurut ukuran dan tempo lagu sehingga menghadap ke depan seolah-olah memandang berkeliling.

– Ragam II adalah taxi berjalan, maksudnya “Cinta meresap” yang mengiaskan meresapnya cinta. Langkah- langkah jalan berukuran menurut tokok (ketukan) lagu, jika tokok lagu itu sama dengan ‘A not.

– Ragam III adalah Tari pusing, maksudnya “memendam cinta”. Makin lama cinta itu semakin mendalam membuat pikiran berpusing, maju mundur oleh dorongan perasaan cinta itu, walaupun kemudian dimilikinya juga gadis itu. Perasaan itu terhenti karena keadaan-keadaan baik yang berkenaan dengan diri sendiri maupun dengan keadaan sekitarnya.

– Ragam IV adalah Tari gila, maksudnya “menggila mabuk kepayang”. Gerak tarinya melenggak lenggok terhuyung-huyung seperti orang mabuk, karena sesungguhnya si pemuda ini telah mabuk kepayang. Raga mini juga disebut sebagai ragam sipat.

– Ragam V adalah Tari berjalan bersipat, maksudnya “berbagai isyarat tanda cinta”. Hal-hal yang terjadi di atas menjadikan sang pemuda semakin mabuk, sehingga kemana saja si gadis pergi senantiasa diikuti oleh si pemuda, karena si pemuda bertekad sekali melangkah pantang surut. Di sini ditunjukkan berbagai isyarat orang yang telah mabuk kepayang, cukup sebentar saja melihat wajah kekasihnya untuk melepas rindu. Ragam ini disebut ragam gila.

– Ragam VI merupakan gerakan taxi gonjet-gonjet, maksud “balasan isyarat”. Pada ragam ini dibuat gerakan melonjak yang terhenti. Ragam ini ditarikan secara berganti-ganti, supaya jelas apa yang diisyaratkan oleh pemuda dan dijawab oleh si pemudi dengan isyarat demikian juga. Artinya “dinda pun demikian juga hai kandaku”. Setelah diperoleh ketetapan hati sang pemudi, barulah hasrat pemuda tersebut dapat dipenuhi yang digambarkan dengan gerak berjalan seirama.

– Ragam VII merupakan taxi sebelah kaki kiri/ kanan maksudnya “menduga”. Setelah mendapat kata sepakat, maka janji diikat dan dipadu, erat dan kokoh tak dapat digugat oleh siapapun.

– Ragam VIII meruapakan taxi langkah tiga melonjak maju mundur, maksudnya “masih belum percaya”. Setelah janji diikat dan dipadu, maka keduanya bergembira menghibur did dan bersenda gurau, kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan harapan esoknya dapat bertemu kembali.

– Ragam IX adalah tari melonjak, maksudnya “jawaban”. Balasan sejati telah didapat, maka janji diikat benar-benar, sehidup semati dan kedua belah pihak menyampaikan maksud mereka kepada orang tua masing-masing. Gerakan tari yang dilakukan dengan melonjak sebagai simbol menunggu jawaban. Gerakan tad menggambarkan upaya dari muda-mudi untuk meminta restu kepada orang tua agar menerima pasangan yang mereka pilih. Kedua muda-mudi tersebut berdebar-debar menunggu jawaban dan restu orang tua mereka.

– Ragam X menggambarkan gerakan saling mendatangi sebagai simbol dari proses peminangan dari pihak laki-laki terhadap perempuan. Setelah ada jawaban kepastian dan restu dari kedua orang tua masing-masing, maka pihak pemuda mengambil inisiatif untuk melakukan peminangan terhadap pihak perempuan. Hal ini dilakukan agar cinta yang sudah lama bersemi dapat bersatu dalam sebuah ikatan suci, yaitu perkawinan.

– Ragam XI memperlihatkan gerakan jalan beraneka cara sebagai simbol dari proses mengantar pengantin ke pelaminan. Setelah lamaran yang diajukan oleh pemuda diterima, maka kedua keluarga akan melangsungkan perkawinan. Gerakan tari biasanya dilakukan dengan nuansa ceria sebagai ungkapan rasa syukur menyatunya dua kekasih yang yang sudah lama dimabuk asmara menuju pelaminan dengan had yang berbahagia.

– Ragam XII merupakan ragam terakhir dalam tad an ini, Pada raga mini gerakan dilakukan dengan sapu tangan. Penggunaan sapu tangan merupakan simbol telah menyatunya dua Kati yang saling mencintai dalam ikatan perkawinan.

Dalam menarikan Tari Serampang XII ini, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, yaitu :

– Musik pendukung tarian, pada awalnya musik pendukung tarian ini adalah menggunakan peralatan music tradisional, dan seiring dengan perkembangan zaman, peralatan musik yang digunakan semakin ragam.

– Pakaian penari, biasanya pakaian penari yang digunakan untuk menari tarian ini adalah pakaian adat Melayu di Pesisir Timur Pulau Sumatera.

– Sapu tangan, sapu tangan dalam tarian ini mempunyai dua fungsi yaitu : sebagai kombinasi pakaian adat dan sebagai media tad pada gerakan penutup.

Pelestarian Tari Serampang XII ini dapat dilakukan dengan cara mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja.

Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan tari Serampang XII sebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal.

Dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai materi muatan lokal, maka anak-anak sejak dini diajarkan untuk mengetahui sejarah keberadaannya dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap geraknya.

Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tani Serampang XII.

Dan juga menyelenggarakan perlombaan rutin Tani Serampang Duabelas. Menyelenggarakan perlombaan tan artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari.

Dalam perlombaan, hanya yang terbaiklah yang akan menjadi juara. Untuk menjadi yang terbaik, setiap orang harus belajar dengan sungguh-sungguh agar mempunyai kemampuan menari yang lebih baik dari orang lain.

Melalui strategi ini, setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang XII secara baik dan benar.

Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang Duabelas pada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik Taxi Serampang Duabelas pada sisi yang lain.

Dengan demikian Tari Serampang XII ini merupakan khasanah warisan kesenian Melayu yang tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan juga diluar Indonesia. Tarian ini merefleksikan nilai-nilai luhur Melayu dan juga menginformasikan tentang sifat dasar Melayu yang terbuka terhadap nilai-nilai yang berasal dari luar. (*)