Melansir dari https://dlhwaykanan.org/, secara naluriah, setiap orang tua bekerja keras untuk mewariskan hal terbaik. Kita menabung untuk pendidikan mereka, mencicil rumah agar mereka punya tempat bernaung, hingga memastikan mereka memiliki asuransi kesehatan yang menjamin masa depan. Kita menyebutnya sebagai “bekal”. Namun, di balik tumpukan polis asuransi dan sertifikat tanah itu, ada sebuah kenyataan pahit yang sering kita abaikan: kita sedang mewariskan tumpukan sampah yang tak akan habis dikonsumsi oleh waktu.
Inilah paradoks manusia modern. Kita sibuk menyiapkan “harta” untuk keturunan kita, namun di saat yang sama, kita merusak “rumah” tempat mereka akan menikmati harta tersebut.
Ironi dalam Sebuah Genggaman
Mari kita jujur. Hampir setiap kenyamanan yang kita nikmati hari ini—kopi dalam cup plastik, kemasan belanja online yang berlapis-lapis, hingga gawai yang kita ganti setiap dua tahun—memiliki harga yang harus dibayar oleh generasi mendatang.
Plastik yang kita gunakan untuk meminum es kopi selama 15 menit hari ini akan membutuhkan waktu hingga 400 tahun untuk terurai. Artinya, ketika anak cucu kita sudah tiada dan cicit mereka telah menua, sedotan plastik yang Anda pakai pagi ini mungkin masih ada di suatu tempat di samudera, mencekik kura-kura atau hancur menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam rantai makanan mereka.
Apakah itu yang kita sebut warisan? Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang meninggalkan tumpukan polimer tak bernyawa daripada hutan yang rimbun?
Menakar Jejak Karbon sebagai “Utang”
Dalam dunia finansial, kita sangat takut meninggalkan utang kepada ahli waris. Namun, dalam konteks lingkungan, kita adalah peminjam yang ugal-ugalan. Kita mengonsumsi energi fosil seolah persediaannya tak terbatas dan membuang emisi karbon ke atmosfer seolah tidak ada hari esok.
Berdasarkan data ilmiah, peningkatan suhu global bukan lagi sekadar prediksi masa depan; itu adalah realitas yang kita rasakan sekarang. Jika kita tidak mengubah cara hidup, anak cucu kita tidak akan mewarisi taman bunga, melainkan “neraka” iklim. Mereka akan menghadapi badai yang lebih ganas, kekeringan yang lebih panjang, dan gagal panen yang sistematis. Harta sebanyak apa pun yang kita simpan di bank tidak akan bisa membeli udara segar atau suhu bumi yang stabil.
Dari Konsumerisme Menuju Kesadaran
Masalahnya bukan hanya pada apa yang kita buang, tetapi pada pola pikir “sekali pakai” yang telah mendarah daging. Kita hidup di era fast fashion, di mana baju diproduksi secara massal dengan kualitas rendah dan dibuang hanya dalam beberapa bulan. Kita hidup di era di mana memperbaiki barang yang rusak dianggap lebih mahal daripada membeli yang baru.
Kita harus mulai bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan transaksi: Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan, atau ini hanya akan menjadi sampah yang membebani bumi setelah saya bosan?
Menjadi konsumen yang sadar adalah langkah pertama dalam mengubah profil “warisan” kita. Memilih produk lokal, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung merek yang peduli pada keberlanjutan bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah kewajiban moral.
Hutan: Paru-paru yang Kita Gadaikan
Warisan sejati adalah ekosistem yang berfungsi. Bayangkan jika anak cucu kita hanya bisa mengenal hutan lewat kacamata Virtual Reality (VR) atau buku sejarah karena hutan tropis kita telah habis dikonversi menjadi lahan monokultur demi keuntungan jangka pendek.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah penyimpan karbon, pengatur siklus air, dan rumah bagi keanekaragaman hayati. Saat kita merusak hutan, kita sedang mencuri hak anak cucu kita untuk menghirup oksigen murni dan menikmati keindahan alam. Kita menggadaikan kesehatan paru-paru mereka demi kenyamanan sesaat.
Mengubah Sampah Menjadi Peluang
Untungnya, belum terlambat untuk mengubah arah kemudi. Konsep Circular Economy atau ekonomi sirkular menawarkan solusi di mana sampah bukan lagi akhir dari sebuah produk, melainkan awal dari sesuatu yang baru.
Di tingkat rumah tangga, kita bisa memulai dengan hal sederhana: kompos. Tahukah Anda bahwa sampah organik yang menumpuk di TPA tanpa oksigen akan menghasilkan gas metana yang 25 kali lebih kuat dari CO2 dalam memerangkap panas di atmosfer? Dengan mengolah sisa makanan menjadi kompos, kita sebenarnya sedang “menabung” nutrisi untuk tanah masa depan. Ini adalah warisan nyata yang jauh lebih berharga daripada tumpukan plastik di gudang.
Pendidikan: Warisan yang Paling Utama
Jika ada satu hal yang paling krusial untuk kita wariskan, itu adalah etika lingkungan. Kita perlu mendidik generasi muda bukan hanya untuk menjadi pintar secara akademis, tetapi juga memiliki empati terhadap bumi.
Ajaklah anak-anak menanam pohon, biarkan tangan mereka menyentuh tanah, dan ajarkan mereka bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran dalam keseimbangan alam. Jika mereka tumbuh dengan rasa cinta terhadap bumi, mereka akan memiliki insting untuk melindunginya. Namun, pendidikan terbaik adalah teladan. Mereka tidak akan mendengarkan ceramah kita tentang lingkungan jika mereka melihat kita masih membuang sampah sembarangan atau boros air.
Penutup: Saatnya Memilih
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat kita bukan berdasarkan seberapa banyak gedung pencakar langit yang kita bangun atau seberapa canggih teknologi yang kita ciptakan. Kita akan dinilai dari apa yang kita tinggalkan di permukaan bumi ini.
Apakah itu hamparan laut biru yang penuh kehidupan, atau samudera yang penuh dengan serpihan plastik? Apakah itu hutan yang hijau dan sejuk, atau lahan gersang yang penuh dengan limbah industri?
Kita memiliki pilihan setiap hari. Saat kita memilih untuk membawa botol minum sendiri, saat kita menolak kantong plastik, saat kita mengurangi konsumsi daging, dan saat kita menuntut kebijakan yang pro-lingkungan, kita sedang menulis ulang surat warisan kita.
Mari pastikan bahwa ketika anak cucu kita melihat ke belakang, mereka tidak akan bertanya dengan penuh amarah: “Mengapa kalian membiarkan semua ini terjadi?” Sebaliknya, biarkan mereka berkata dengan penuh syukur: “Terima kasih karena telah menjaga dunia ini tetap indah untuk kami.”
Jadi, apa yang Anda berikan hari ini? Warisan yang menghidupi, atau sampah yang membebani?
