Manfaat Konservasi Lingkungan bagi Ekonomi, Sosial, dan Kesehatan
Sering kali, upaya konservasi lingkungan dianggap sebagai “penghambat” pertumbuhan ekonomi atau sekadar gerakan moral yang tidak memiliki keuntungan finansial. Banyak yang bertanya, “Apa gunanya menjaga hutan jika kita butuh lahan untuk pabrik?” atau “Kenapa harus melindungi terumbu karang jika kita butuh pelabuhan baru?”
Pandangan ini adalah kekeliruan besar. Faktanya, konservasi bukan biaya; ia adalah investasi. Menjaga alam bukan hanya soal menyelamatkan pohon atau hewan langka, melainkan soal mengamankan fondasi ekonomi, stabilitas sosial, dan kesehatan manusia. Tanpa lingkungan yang sehat, seluruh sistem yang dibangun manusia akan runtuh seperti rumah kartu.
Mengutip dari situs https://dlhmanokwariselatan.org/profile/tentang/, berikut adalah uraian mendalam mengenai manfaat luar biasa konservasi dari tiga pilar utama kehidupan kita.
1. Manfaat Ekonomi: Alam sebagai Modal Paling Berharga
Ekonomi dunia sebenarnya “menumpang” di atas jasa ekosistem. Menurut data World Economic Forum, lebih dari setengah PDB dunia (sekitar $44 triliun) bergantung pada alam.
-
Penyedia Jasa Ekosistem Gratis: Alam menyediakan jasa yang jika dikonversi ke angka, nilainya sangat fantastis. Hutan menyediakan penyerbukan bagi tanaman pangan oleh serangga, pengendalian hama alami, dan pengaturan siklus air. Jika lebah punah, biaya penyerbukan buatan secara manual akan menghancurkan industri pertanian global.
-
Ketahanan Pangan dan Bahan Baku: Konservasi laut memastikan stok ikan tetap ada bagi industri perikanan. Konservasi hutan memastikan ketersediaan kayu berkelanjutan, tanaman obat, hingga bahan baku industri kreatif yang tak terbatas.
-
Peluang Kerja Baru melalui Ekonomi Hijau: Transisi menuju energi terbarukan dan ekowisata menciptakan jutaan lapangan kerja baru. Ekowisata, khususnya, adalah salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat yang langsung menguntungkan masyarakat lokal tanpa merusak aset utamanya—yaitu pemandangan dan biodiversitas.
-
Pencegahan Kerugian Akibat Bencana: Menjaga mangrove dan hutan lindung adalah bentuk asuransi bencana. Biaya untuk merestorasi hutan jauh lebih murah dibandingkan biaya rehabilitasi kota yang hancur akibat banjir bandang atau tsunami yang tak terhalang benteng alami.
2. Manfaat Sosial: Memperkuat Akar Peradaban
Secara sosial, lingkungan yang lestari adalah perekat komunitas dan penjamin keadilan antar-generasi.
-
Keadilan Sosial dan Hak Masyarakat Adat: Konservasi yang inklusif melindungi ruang hidup masyarakat adat dan lokal. Hal ini mencegah konflik lahan dan pengungsian akibat kerusakan lingkungan (pengungsi iklim).
-
Keamanan Air dan Energi: Krisis lingkungan sering kali memicu konflik sosial memperebutkan sumber daya yang menipis. Dengan menjaga daerah aliran sungai, kita mencegah “perang air” di masa depan dan menjaga stabilitas sosial di tingkat pedesaan hingga perkotaan.
-
Warisan Budaya dan Identitas: Banyak kebudayaan di Indonesia yang akarnya menyatu dengan alam. Melestarikan laut atau hutan berarti melestarikan identitas, ritual, dan bahasa yang tumbuh dari interaksi manusia dengan alam tersebut.
-
Ketahanan Komunitas: Lingkungan yang terjaga membuat masyarakat lebih mandiri. Mereka tidak perlu bergantung pada bantuan luar ketika alam mereka mampu menyediakan air bersih dan pangan secara berkelanjutan.
3. Manfaat Kesehatan: Benteng Terdepan Kesejahteraan Manusia
Pandemi global yang kita alami beberapa tahun terakhir menjadi pengingat keras bahwa kesehatan manusia dan kesehatan bumi adalah satu kesatuan (One Health).
-
Pencegahan Zoonosis: Konservasi hutan menjaga satwa liar tetap di habitatnya. Ketika hutan dirusak, satwa liar berinteraksi lebih dekat dengan manusia, yang meningkatkan risiko perpindahan virus mematikan (seperti Ebola atau virus korona) ke populasi manusia.
-
Kualitas Udara dan Paru-Paru Manusia: Hutan dan ruang terbuka hijau di kota adalah pemurni udara alami. Mereka menyerap karbon dioksida dan polutan berbahaya, secara langsung menurunkan angka penyakit pernapasan seperti asma dan ISPA.
-
Sumber Obat-obatan Masa Depan: Sebagian besar obat-obatan modern, dari aspirin hingga obat kanker, berasal dari senyawa alami. Dengan menjaga biodiversitas, kita sebenarnya sedang menjaga “perpustakaan medis” raksasa yang berisi potensi obat bagi penyakit yang belum ada penyembuhnya saat ini.
-
Kesehatan Mental (Green Space Benefits): Penelitian menunjukkan bahwa berinteraksi dengan alam secara signifikan menurunkan tingkat stres, depresi, dan kecemasan. Alam adalah terapi gratis yang paling efektif untuk kesejahteraan jiwa manusia di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Kesimpulan: Memilih Keberlanjutan
Kita harus berhenti memandang konservasi sebagai pilihan “antara ekonomi atau lingkungan.” Pilihan yang benar adalah ekonomi di dalam lingkungan. Tanpa air bersih, tidak ada pabrik yang bisa beroperasi. Tanpa udara segar, tidak ada pekerja yang sehat. Tanpa alam yang stabil, tidak ada pasar yang aman dari bencana.
Konservasi lingkungan adalah strategi pembangunan paling cerdas yang bisa kita ambil. Ia memberikan kita keamanan finansial, kedamaian sosial, dan kesehatan fisik. Saat kita menjaga alam, sebenarnya kita sedang menjaga diri kita sendiri, dompet kita, dan masa depan anak-cucu kita.
Mari mulai memandang setiap pohon dan setiap jengkal laut bukan sebagai benda mati yang siap dieksploitasi, melainkan sebagai mesin ekonomi dan penyokong nyawa yang harus dirawat.
