Program Konservasi Berbasis Masyarakat yang Terbukti Berhasil
Program Konservasi Berbasis Masyarakat yang Terbukti Berhasil: Kekuatan dari Akar Rumput
Selama puluhan tahun, pendekatan konservasi seringkali bersifat top-down atau instruksi dari atas ke bawah. Pemerintah atau organisasi internasional menetapkan suatu kawasan sebagai wilayah lindung, memagari batas-batasnya, dan melarang masyarakat lokal masuk. Namun, sejarah membuktikan bahwa model “konservasi pagar dan senjata” ini sering kali gagal. Mengapa? Karena ia memisahkan manusia dari tanah kelahirannya.
Kini, paradigma dunia telah berubah. Kunci keberhasilan menjaga alam terletak pada Konservasi Berbasis Masyarakat (KBM). Ini adalah model di mana masyarakat lokal bukan lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai penjaga utama. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari alam yang lestari, mereka akan menjadi benteng pertama yang melindunginya.
Bersumber dari https://dlhmanggarai.org/profile/tentang/, berikut adalah eksplorasi mendalam mengenai program-program konservasi berbasis masyarakat yang telah terbukti berhasil dan menjadi inspirasi dunia.
1. Keajaiban Sasi: Kearifan Lokal Maluku dan Papua yang Mendunia
Jauh sebelum istilah “sustainability” populer di dunia Barat, masyarakat di Kepulauan Maluku dan Papua telah mempraktikkan Sasi. Sasi adalah larangan adat untuk mengambil hasil alam tertentu (baik di darat maupun di laut) dalam jangka waktu tertentu.
-
Bagaimana cara kerjanya? Pemuka adat akan menutup sebuah wilayah perairan, misalnya, dilarang mengambil lola (kerang) atau teripang selama satu tahun. Selama masa ini, ekosistem memiliki waktu untuk memulihkan diri, dan biota laut tumbuh besar tanpa gangguan manusia.
-
Mengapa ini berhasil? Karena ada sanksi sosial dan kepercayaan spiritual yang kuat. Masyarakat patuh bukan karena takut pada polisi, tapi karena hormat pada adat. Saat “Buka Sasi” tiba, hasil panen yang melimpah dibagi secara adil, memberikan dampak ekonomi langsung yang nyata.
-
Hasilnya: Wilayah yang menerapkan Sasi terbukti memiliki biodiversitas yang jauh lebih tinggi dan ketahanan pangan yang lebih stabil dibandingkan wilayah yang mengeksploitasi laut tanpa jeda.
2. Lubuk Larangan: Menjaga Sungai dengan Norma Adat di Sumatera
Di pedalaman Sumatera, khususnya di Jambi dan Sumatera Barat, terdapat tradisi Lubuk Larangan. Ini adalah bagian sungai yang dipagari secara hukum adat agar ikannya tidak diambil secara sembarangan.
-
Tantangan: Pencemaran sungai akibat limbah dan penggunaan racun atau setrum ikan.
-
Solusi Masyarakat: Masyarakat menetapkan zona larangan yang hanya boleh dipanen setahun sekali, biasanya menjelang hari raya. Uang hasil lelang ikan panen raya tersebut digunakan untuk pembangunan desa, seperti renovasi masjid atau beasiswa sekolah.
-
Dampak Nyata: Sungai menjadi bersih, populasi ikan asli seperti ikan semah tetap terjaga dari kepunahan, dan kohesi sosial masyarakat menguat karena adanya agenda bersama yang menguntungkan semua pihak.
3. Ekowisata Penyu di Sukamade dan Kalimantan: Mengubah Pemburu Menjadi Pelindung
Dahulu, telur penyu adalah komoditas ekonomi yang diburu secara masif. Namun, program konservasi berbasis masyarakat mengubah pola pikir ini melalui ekowisata.
-
Strategi: Masyarakat yang dulunya pemburu telur dilatih menjadi tour guide atau petugas konservasi. Mereka menyadari bahwa satu ekor penyu yang hidup dan bertelur dapat mendatangkan wisatawan secara terus-menerus, yang berarti pendapatan yang lebih berkelanjutan daripada menjual telur sekali habis.
-
Keberhasilan: Di banyak lokasi di Indonesia, angka keberhasilan penetasan telur penyu meningkat drastis. Masyarakat secara sukarela melakukan patroli malam untuk melindungi sarang penyu dari predator alami maupun manusia.
4. Perhutanan Sosial: Memberi Hak, Menjaga Hutan
Salah satu program pemerintah yang paling progresif dalam mendukung KBM adalah Perhutanan Sosial. Program ini memberikan akses legal kepada masyarakat sekitar hutan untuk mengelola lahan hutan tanpa merusaknya.
-
Model Agroforestri: Masyarakat diizinkan menanam tanaman sela seperti kopi, kakao, atau buah-buahan di bawah naungan pohon-pohon hutan yang tetap berdiri tegak.
-
Bukti Keberhasilan: Di desa-desa yang memiliki izin Hutan Desa atau Hutan Kemasyarakatan, angka kebakaran hutan menurun drastis. Logikanya sederhana: masyarakat tidak akan membakar lahan mereka sendiri karena itu adalah sumber penghidupan mereka. Mereka kini memiliki insentif untuk mengusir pembalak liar yang mencoba merusak “aset” mereka.
Mengapa Program Berbasis Masyarakat Lebih Tangguh?
Ada tiga alasan utama mengapa keterlibatan masyarakat adalah “resep rahasia” keberhasilan konservasi:
-
Kepemilikan (Sense of Ownership): Manusia secara alami akan menjaga apa yang mereka miliki. Ketika hutan dianggap milik negara, masyarakat merasa asing. Namun, ketika hutan diakui sebagai milik komunitas, mereka akan menjaganya dengan nyawa.
-
Pengetahuan Lokal: Masyarakat lokal memiliki pengetahuan mendalam tentang musim, perilaku satwa, dan jenis tanaman yang tidak ditemukan di buku teks manapun. Menggabungkan sains modern dengan pengetahuan lokal menciptakan strategi konservasi yang sangat akurat.
-
Efisiensi Biaya: Melibatkan masyarakat jauh lebih murah dibandingkan mengerahkan ribuan aparat keamanan untuk menjaga kawasan hutan yang luas.
Tantangan yang Masih Membayangi
Meskipun banyak yang berhasil, KBM tetap menghadapi hambatan besar:
-
Tekanan Ekonomi: Kebutuhan mendesak untuk makan seringkali memaksa masyarakat kembali ke praktik ekstraktif jika solusi ekonomi hijau tidak segera menghasilkan.
-
Intervensi Pihak Luar: Perusahaan besar yang memiliki izin konsesi seringkali berkonflik dengan wilayah adat masyarakat.
-
Kurangnya Literasi Keuangan: Program yang menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat seringkali tidak terkelola dengan baik tanpa pendampingan yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Masa Depan yang Inklusif
Program konservasi yang terbukti berhasil adalah program yang memanusiakan manusia. Ia tidak hanya bicara tentang angka populasi harimau atau luas tutupan hutan, tapi juga bicara tentang piring nasi di meja makan penduduk desa.
Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa melalui gotong royong dan kearifan lokal. Jika modal ini disinergikan dengan kebijakan pemerintah yang pro-rakyat dan dukungan teknologi dari para ahli, kita tidak hanya akan mampu melestarikan alam, tapi juga mengentaskan kemiskinan di daerah pinggiran hutan dan pesisir.
Konservasi bukan tentang menjauhkan manusia dari alam, melainkan membawa manusia kembali pulang ke alam sebagai pelindung, bukan perusak.
Langkah Apa yang Bisa Kita Ambil?
Kita yang tinggal di perkotaan pun bisa berperan dalam menyukseskan KBM:
-
Mendukung Produk Lokal Berkelanjutan: Belilah kopi yang ditanam petani hutan atau kerajinan tangan dari komunitas konservasi.
-
Berwisata dengan Etika: Saat mengunjungi daerah ekowisata, gunakan jasa pemandu lokal dan patuhi aturan adat mereka.
-
Menyuarakan Hak Masyarakat Adat: Jadilah corong bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan tanah ulayatnya dari kerusakan lingkungan.
Apakah Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang profil salah satu komunitas lokal di Indonesia yang sukses memulihkan hutan mereka secara mandiri?
