INDEKS MEDIA

Berita Hari Ini Di Indonesia & Internasional

Mengenal Tari Mondotambe Asal Kolaka

Tarian Mondotambe Asal Kolaka

INDEKSMEDIA.ID – Mondotambe adalah tarian penjemputan yang dilakukan pada saat penerimaan para tamu atau acara-acara yang dilaksanakan masyarakat Mekongga di Kolaka.

Tarian tersebut di bawakan oleh gadis-gadis remaja sebagai tanda penerimaan yang tulus, ikhlas dan merasa gembira kepada para tamu.

Jumlah penari terdiri dari 6, 8, bahkan jumlahnya bisa mencapai 12 orang , yang terpenting jumlah penari genap.

Variasi tarian terdiri dari 13 gerakan yang diakhiri dengan tabur bunga atau beras dalah bahas Tolaki disebut (mekaliako owoha).

Tari Basalonde adalah tarian tradisi dari daerah Kolaka Sulawesi Tenggara. Menurut tradisi lisan, tari ini diciptakan oleh seorang raja Mekongga bernama Bokeo Teporambe sekitar abad ke-16.

Basalonde ditarikan oleh seorang wanita seluruhnya antara 6-10 orang secara berpasang-pasangan. Adapun cara masuk kearena satu persatu.

Gerak-gerakannya tari ini menunjukan bagaimana cara orang memuja yang kuasa.

Para pemain merentangkan tangan kekiri dan kekanan, sedang pada ujung jari telunjuk kedua tangannya dililitkan ujung-ujung selendang yang mereka pakai (melingkar dipinggang dan diikat) dibelakang, sehingga mereka nampak seperti burung-burung yang mengipas sayapnya.

Gerak-gerak kakinya seperti pada tari Lulo, yaitu kaki ke kiri dan kanan bergantian diinjak-injak ke tanah, mereka menari dalam bentuk lingkaran.

Pada salah satu variasi gerak tarian ini, mereka bergerak maju kearah sampaing kanan dengan langkah yang amat pendek, sambil membuka dan merapatkan telapak tangan mereka seperti gerak memuja atau berdoa.

Iringan dengan instrumen dimba (gendang) dan tawa-tawa (gong). Lama pertunjukan sepuluh menit atau sesuai kekuatan.

Tari Basalonde pada mulanya semata-mata merupakan hiburan untuk keluarga raja di dalam istana dan ditarikan oleh dayang-dayangnya.

Setelah raja mangkat tari ini diambil oleh kalangan luar istana lalu berfungsi sebagai tarian pertunjukan para sangiang atau dewa-dewa dan leluhur mereka yang dianggap sakti.

Kostum yang digunakan berupa pakaian adat, lengan panjang, tidak berleher, dengan bukaan didepan dan berhias manik-manik disepanjang pinggirannya, sarung panjang sampai untuk mata kaki, selendang, sanggul yang dihiasi dengan bunga pinang goyang serta perhiasan-perhiasan seperti anting-anting yang panjang terurai gelang tangan, dan kalung dari emas. (*)