INDEKS MEDIA

Berita Hari Ini Di Indonesia & Internasional

Mengenal Kesenian Kerawang Gayo Khas Aceh

Kerawang Gayo khas Aceh.

INDEKSMEDIA.ID – Potensi manusia menemukan potensi alam melahirkan kebudayaan di antaranya berupa ukiran yang motif-motifnya diambil dari flora dan fauna dan dinukil pada bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.

Manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari alam, sebagaimana manusia tidak mungkin melepaskan diri dari Tuhan dan manusia lainnya.

Hubungan manusia dengan Tuhan mendorong, mengendalikan dan mendorong manusia untuk melakukan kebaikan kepada manusia dan alam.

Manusia memerlukan kebutuhan rohani dan jasmani. Ukiran sebagai bagian dari kebudayaan adalah keindahan untuk memenuhi kebutuhan rohani manusia dan karena ukiran dibutuhkan rohani menyebabkan ukiran itu amat bernilai atau berharga yang dapat memenuhi kebutuhan jasmani di samping rohani.

Alam hewani (Nora) dan alam tumbuh-tumbuhan (fauna) menunjukkan dirinya kepada manusia Gayo untuk menemukan motif-motif ukir yang disebut kerawang Gayo.

Motif-motif itu dinukil pada bahan-bahan yang ada di sekitar mereka yaitu pada kayu bangunan, tanah liat menghasilkan keramik, bahan anyaman tenunan kain dan logam.

Motif pada kayu antara lain berbentuk: Emun berangkat (awan berarak), pucuk ni tuwis (pucuk rebung), ulen-ulen (bulan-bulan), mutik (putik), puter tali (jalinan tali), bunge ulen-ulen (bunga bulan), bunge ni terpuk (bunga kuncung), bunge ni pertik (bunga papaya), bunge lao (bunga matahari), bunge kemang (bunga yang sedang kembang), bur/baur (gunung), bintang bulan (bintang dan bulan), nege (naga), iken/gule (ikan) dan mata m itik (mata itik).

Cara membuatnya, menggunakan pahat pada kayu yang dijadikan bahan bangunan rumah: Tulak kuyu (tolak angina bagian atas), pepir (tolak angina bagian bawah), penumpu ni bere dan penumpu ni kaso (les plang), penulangan (kindang), suyen (tiang), kite (tangga), penyokenen (ambang atas pintu), peger ni lepo (pagar beranda depan).

Semua ukiran timbul, tidak ada yang tembus kecuali pada peger ni lepo dan tidak diwarnai.

Penerapan motif ukiran pada kain sebagian menggunakan motif pada kayu dengan beberapa tambahan: ulen-ulen (bulan-bulan), emun berangkat (awan berarak), tapak Sulaiman (tapak Nabi Sulaiman), bintang (bintang), kekacang.

Penempatan motif-motif itu pada kain berwarna merah muda, merah hati, kuning, hijau claim tua, putih dan hitam pada kain dasar putih.

Cara membuatnya sebelum ada mesin jahit atau sulam, dilakukan dengan tangan, kemudian berkembang dengan tenun tradisional.

Ketika pakaian sudah dipasarkan di daerah ini, pembuatan motif kerawang hilang dan timbul kembali ketika masa pendudukan Jepang, karena kain tidak ada lagi di pasar. Hasil praktis dari hash pekerjaan kerawang berupa:

1. Upuh Ulen-ulen (pakaian bulan-bulan) di mana kerawang berupa bentuk bulan lebih dominan terletak di tengah-tengah pakaian.

2. Upuh Jerak (pakaian ules) yang tersusun berbagai jenis kerawang secara harmonik dan tidak satu jenis kerawang pun yang lebih menonjol.

3. Baju Tabur Kerlang yaitu baju yang jenis kerawangnya lebih banyak terdapat di bagian dada dan bahu.

4. Baju Tabur Sede ialah baju yang kerawangnya merata hampir pada semua bagian pakaian baju.

5. Ketawak yaitu tali pinggang agak lebar dari kain yang biasanya dipergunakan ketika melakukan akad nikah.

Motif kerawang pada anyaman antara lain berupa: Kerawang Panik, Rongka (kerangka), Gedok (bengkok), lelayang (layang-layang), Bunge Kemang (bunga kembang), Bunge Matanlao (Bunga Matahari), Gegenit (tali pinggang), Matani Itik (mata itik), Bunge Lela (semanggi), Gegenit Sesuk (tali pinggang tegak), Gegenit Bolos (tali pinggang lebar), Pejet (penguat), Bintang (bintang), Gegedok Sesuk (bengkokan tegak), Kekunut (bentuk kuku), Sesiku (bentuk siku), Sesige (bentuk pemanjat), Lintem Bota (ukiran bota), Leladu (ukiran lengkung),

Jejepas (ukiran jarang-jarang), Lelopah (bentuk pisau), Amparan (ukiran merata), Rehal (rehal tempat membaca al-Qur’an), Gegedok (bengkokan), Lelipen (bentuk lipan) dan Tulen ni Iken (tulang ikan). Bahan anyaman terdiri dari :kertan, beldem, cike, benyet dan bengkuang kayu.

Motif kerawang pada anyaman dibuat dengan cara munayu (menganyam) dan munyucuk (seperti menyulam). Produksinya terdiri dari denang (gelaran) dan perjut (karung dan sejenisnya).

Yang termasuk denang antara lain: Alas kolak (tikar lebar untuk menjemur padi dan kopi), alas bedang (tikar sedang) untuk tempat duduk),tetopano (tikar lebih kecil dari alas bedang), mesala (musalla=alas untuk shalat), lapik ni ampang (alas atau lapik ampang) tikar tempat duduk lebih kecil dari tetopang, ampang (tempat duduk lebih kecil dari lapik ampang) digunakan sebagai tempat duduk wali penganten perempuan dan penganten laki-laki ketika melakukan aqad nikah atau pemimpin pada upacara resmi dan sebagainya.

Yang termasuk dalam katagori perjut atau karung, antara lain: Karung (tempat padi), sentong (tempat beras atau nasi), tope (tempat barang kecil atau kiriman), bebakon (tempat tembakau), bebalun (tempat bahan sirih), kampil (tempat barang kecil), peganahan (tempat sayur-mayur), peleden (tempat lada), pepowan (tempat garam), pegedoken (tempat berbagai jenis keperluan) dan tape ikot (sumpit yang diikat) tempat barang berharga.

Selain itu terdapat hasil motif kerawang pada anyaman berdasar cara pembuatannya yaitu alas belintem (tikar berkerawang), sentona belintem (sumpit besar berkerawang), tape belintem (sumpit kecil berkerawang), alas berukir (tikar berukir) dan bebalun berukir (tempat sirih berukir).

Motif kerawang pada keramik yang dibuat dari tanoh liet (tanah liat) bercampur kersik (pasir bersih dan halus) dengan cara ditempa dibentuk sesuai dengan maksud membuatnya dan ditera pada keramik setengah kering.

Motif-motif keramik terdiri dari: tapak ni tikus (tapak tikus), emun berangkat (embun berarak), kekukut (berbentuk kuku), bunge ni bako (bunga tembakau), rante (rantai), kacang (buah kacang), pucuk ni tuis (pucuk rebung), tapak Seleman (tapat Nabi Sulaiman) dan ulung ni lela (daun Ida).

Cara membuatnya dengan menggunakan pinggir uang logam, bilah bambu yang runcing, kuku ibu jari tangan dan tusuk konde (pating) Produksinya antara lain: keni (kendi) tempat air minum berbentuk ceret bagi laki -laki, labu tempat minum bagi perempuan, kelalang, tempat air untuk mencuci tangan, buyung untuk mengambil air dari sumur dan menyimpannya.

Selain itu ada keramik yang biasanya tidak diukir kerawang yaitu bebaro (guci) tempat menyimpan air, cebon (cuci tangan menjelang makan), capah (piring besar), pingen (puing biasa), cawan (tempat lauk pauk).

Penerapan motif kerawang pada logam antara lain pada: pating atau lelayang (konde sempol), tangan ringit dan tangang berahmani (kalung), gelang kucak (kecil) dan gelang kul (besar) hiasan tangan dan kaki, topong tangke ni rom dan topong iling-iling; perhiasan di pergelangan tangan, sensim (cincin) keselan; hiasan di jari manis tangan dan genit rante (rantai tali pinggang).

Teknis penempatan motif kerawang Gayo pada suatu benda tertentu umumnya tidak sendiri-sendiri tetapi selalu terpadu dengan motif-motif lain yang serasi dan seimbang.

Dalam pada itu kemandirian bentuk suatu motif masih tetap dapat dilihat dengan jelas, kecuali pada alas belintem, sentong, tape belintem yang seluruh permukaan bidangnya dihias dengan lintem.

Teknis penempatan lain ialah simetrisitas suatu gugusan motif dalam satu bidang, setengah di sebelah kiri dan setengah lagi di sebelah kanan atau setengah di bagian atas dan setengah lagi di bagian bawah dengan bentuk dan besarnya sama.

Jika bidang yang akan ditempati motif-motif itu luas atau memanjang, maka terjadi beberapa kali perulangan gugusan yang sama pula. (*)