INDEKS MEDIA

Berita Hari Ini Di Indonesia & Internasional

Tradisi Berahoi, Mengirik Padi Asal Melayu Langkat, Ada Nyanyian, Pantun dan Rentak Kaki

Tradisi Berahoi asal Melayu Langkat. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

INDEKSMEDIA.ID – Berahoi dikategorikan sebagai tradisi lisan yaitu suatu tradisi upacara ritual dalam mengirik padi berahoi dilakukan dengan nyanyian, pantun, dan rentak kaki pengirik secara serentak dan musikal.

Tari dan nyanyi Berahoi menggambarkan kegiatan pertanian agraris masyarakat Melayu Langkat yang menggunakan sistem yang “tetap” berdasarkan urutan-urutan yang “konsisten” dan teratur dengan lingkaran (siklus) tajak, semai, tanam, dan panen.

Pertama, sistem tradisi membuka banjar dilaksanakan dengan upacara membuka tanah yang disebut penotauan (penataan tanah).

Upacara penotauan ini pada masa dahulu bersifat sakral dan magis yang melibatkan peran seorang pawang atau datu.

Kedua, menyediakan persyaratan untuk upacara njamu sawah atau njamu ladang (menjamu bendang/sawah).

Ketiga, pawang bendang mempersiapkan bahan-bahan ramuan. Keempat, menyelenggarakan upacara perjamuan dengan beberapa persyaratan tertentu.

Kelima, merawat tanaman padi muda, dan keenam, mengirik padi sebagai kegiatan bersama.

Di Bohorok Langkat, pada zaman dahulu ada prosesi ritual ngerbah hutan jika melakukan penebangan pohon untuk membersihkan arealnya yang dijadikan lahan pertanian yaitu mempersiapkan bahan-bahan dan ramuan serta seperangkat alat yang memiliki kekuatan tuah, berarti memberikan persembahan kepada penguasa hutan (makhluk halus), melaksanakan upacara pemotongan hewan (ayam, kambing, dan kerbau), penepungtawaran bibit padi, pemeliharaan dan pengawasan padi yang mulai bunting untuk berbuah, pemotongan padi dengan menggunakan tuai (ani-ani), dan mengirik padi secara bergotong royong.

Budaya pertanian Melayu bersifat kampung dan tradisional tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan dan adat yang berkaitan dengan masyarakat pendukung pertanian itu sendiri.

Selain sebagai karya tradisi lisan, tradisi berahoi termasuk hasil kreasi tradisi masyarakat yang dikategorikan sebagai folklor karena is mengandung ungkapan berbentuk metrik, pantun, pepatah, lagu rakyat yang diujarkan secara lisan, mantra kepercayaan rakyat atau supertisi, dan sebagai tradisi, pertunjukan dan tari.

Warga yang berhajat menyelenggarakan tradisi berahoi mengundang anak-anak beru yang tua dan muda dan menyerahkan secara langsung kepada anak beru untuk menyelenggarakan tradisi berahoi.

Tugas yang diterima oleh anak beru adalah mengundang kawan-kawan sebaya, yakni anak beru yang muda mengundang para pemuda, sedangkan anak beru yang tua mengundang orang tua-tua baik lelaki maupun perempuan.

Sebelum waktu berahoi, ahli bait mengutus anak beru mendatangi orang-orang yang sedang berahoi ditempat lain.

Pada kesempatan itu utusan ahli bait mengundang para pemuda yang sedang beristirahat satu ronde dalam berahoi.

Setepak sirih disorongkan oleh anak beru sang ahli bait sewaktu datang mengundang untuk mengerik padi pada malam dan waktu yang ditentukan ke rumah ahli bait yang menyelenggarakan berahoi.

Pada waktu tiga hari lagi mendekati hari pelaksanaan tradisi berahoi, para famili dekat berdatangan ke rumah ahli bait.

Mereka bergotong royong membersihkan tempat berahoi, membuat teratak, menungkati rumah dan membuat selang. Pada kegiatan lain, kaum ibu mengambil kayu api.

Pada zaman dahulu, kegiatan tradisi berahoi ini merupakan arena pertemuan bagi pemuda dan gadis Melayu untuk saling memulai perkenalan dan mencari jodoh.

Menurut penjelasan informan (Adenan, usia 75 tahun, 2 Januari 2013) pada kegiatan tradisi berahoi permainan berbalas pantun berikat (pantun berkait) dilantunkan pemuda ketika saat istirahat.

Permainan berbalas pantun sebagai seni bertutur masyarakat Melayu Bahorok (Langkat) ini dipakai sebagai cara berkomunikasi antar muda-mudi dan dijadikan peluang untuk mengajuk hati, biasanya dilakukan sambil berlagu dan berahoi pada masa istirahat setelah letih bekerja atau mengirik padi.

Arena (gelanggang) berahoi biasanya dibuat di halaman rumah. Para pemuda dan beberapa orang tua bergotong royong mengirik padi dan membersihkan bulir-bulir padi yang terpisah dari tangkai (yang disebut ruman).

Anak-anak gadis Melayu berada di pelataran rumah panggung dan dari atas mereka melihat dan mengintip sejumlah pemuda di bawah yang sedang berahoi.

Apabila masa istirahat (sehabis satu ronde), para pemuda membungkus rokok daun beserta tembakau dan melempar ke atas pelataran, tempat anak-anak gadis duduk bercengkrama, bersendagurau.

Para anak gadis menyambut lemparan bungkusan yang dilemparkan si pemuda tadi dan mulai melinting (menggulung rokok). Setelah ronde kedua, berahoi dimulai, maka rokok yang sudah digulung sang gadis diberikan kembali kepada si pemuda.

Dari peristiwa pelemparan dan penggulungan rokok tadi, si pemuda berusaha dan menyelidiki si gadis melalui teman-temannya.

Peristiwa ini berlanjut beberapa hari kemudian dan biasanya pertemuan sesama muda-mudi itu diteruskan untuk membina hubungan percintaan.

Tradisi lempar dan sambut rokok gulung ini termasuk bagian yang penting dalam pertemuan pemuda dan gadis dalam tradisi berahoi. (*)