INDEKS MEDIA

Berita Hari Ini Di Indonesia & Internasional

Beksan Lawung, Kesenian Klasik Gaya Yogyakarta yang Diciptakan Sri Sultan Hamengkubuwono I

Beksan Lawung, kesenian Khas DI Yogyakarta. (Keraton Yogyakarta)

INDEKSMEDIA.ID – Beksan (Tari) Lawung merupakan seni tari klasik gaya Yogyakarta. Diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Beksan Lawung yang lengkap dibawakan 16 orang penari dibagi dalam lima kelompok yaitu dua orang botoh, empat orang lurah, empat orang jajar, empat orang plincon dan dua orang pelawak.

Adapun penari lurah dan jajar adalah penari-penari yang betul-betul manarikan permainan-permainan lawung.

Keempat penari plincon hanya bertugas sebagai pembawa lawung. Sedangkan kedua pelawak itu masing-masing merupakan pembantu kedua botoh yang sedang bertaruh.

Beksan Lawung di Kraton Yogyakarta hanya dipentaskan pada waktu ada upacara perkawinan.

Di luar istana juga sering dipentaskan tetapi penarinya dikurangi menjadi sepuluh, delapan, enam bahkan sering perlu hanya empat Beksan Lawung,
Tarian perang-perangan atau ulah yuda.

Beksan Lawung merupakan salah satu beksan ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Beksan ini diilhami keadaan waktu dimana ada kegiatan prajurit-prajurit sebagai abdi dalem raja selalu mengadakan latihan watangan, berlatih ketangkasan berkuda dengan membawa watang atau lawung, yaitu sebuah tongkat panjang kurang lebih 3 meter berujung tumpul, dan silang menyodok untuk menjatuhkan lawan.

Dialog yang digunakan merupakan campuran dari bahasa Madura, bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Beksan ini oleh Sri Sultan dijadikan Beksan ceremonial yang sangat terhormat, bahkan menjadi wakil pribadi dan Sri Sultan pada resepsi perkawinan agung pada hari pertama di Kepatihan dimana menurut istidadat Jawa. .

Sri Sultan tidak boleh menghadirinya. Beksan ini lengkapnya terdiri 40 orang penari dan dibagi dalam 3 beksan yaitu: Lawung Ageng untuk gagahan dengan 16 orang penari, beksan sekar medura dengan 8 penari gagah dan alus: ke 3 beksan ini apabila dipentaskan lengkap akan memakan waktu 5 jam dengan iringan gamelan khusus yaitu Kiai Guntur Sri dengan suaranya yang antep mengalun selama pagelaran ini berlangsung para penari disamping sisi kiri kanan gamelan dilarang istirahat Tari pria bersenjatakan lawung (tombak) pada umumnya dibawakan oleh 16 orang penari putera,dan beksan putra ini termasuk dalam tari upacara.

Dahulu biasa dipergelarkan untuk merayakan resepsi perkawinan putra-putri sultan di kepatihan. Beksan lawung dipakai sebagai wakil raja dalam upacara pernikahan tersebut.

Karena suatu hal yang tabu serta menghilangkan kewibawaan raja apila raja sampai hadir di kepatihan yang tingkat derajatnya berada di bawah raja. Karena Beksan Lawung dianggap sebagai wakil raja, maka tidak boleh dipentaskan di sembarang tempat.

Dalam perjalanan dari Kraton ke kepatihan para penari beksan lawung mengendarai kuda dengan dipayungi sonsong gilap kebesaran dikawal oleh prajurit wirabraja dan diiringi gamelan Kia Guntur Sari yang sepanjang jalan dibunyikan dengan melagukan gending sabrangan.

Beksa lawung secara lengkap terdiri dari 3 bagian yaitu (1)Beksa lawung alit (2) Beksa lawung ageng atau beksan lawung gagah atau beksa trunajaya( lihat Beksa Trunajaya), dan (3) Beksa Sekar Medura.

Beksan lawung diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I yang memerintah dari tahun 1755-1792. Beksa ini merupakan usaha dari Sultan untuk mengalihkan perhatian Belanda terhadap kegiatan prajurit Kraton Yogyakarta.

Karena pada masa itu dalam suasana perang, sultan harus mengakui dan tunduk segala kekuasaan Belanda di Kesultanan Yogyakarta. Ia harus patuh pada segala perintah maupun peraturan yang telah ditentukan, termasuk olah keprajuritan.

Latihan keprajuritan dengan menggunakan senjata dilarang Belanda. Oleh karena itu sultan mengalihkan olah keprajuritan ke dalam bentuk beksan yaitu beksan lawung.

Melalui beksa lawung ini sultan berusaha untuk membangkitkan sifat kepahlawanan prajurit Kraton pada masa perang tersebut. Beksa lawung menunjukkan semangat dan keberanian melalui gerakan-gerakan tari.

Oleh karena itu tema dalam Kraton khususnya Beksa Lawung kebanyakan bertema kepahlawanan. Beksa berisi sindiran-sindiran halus sebagai ungkapan rasa tidak senang sultan terhadap pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta.

Selain itu, Beksa Lawung diangkat sebagai tari ritual wakil sultan dalam upacara perkawinan putra dan putrinya, bukan semata-mata sebagai wakil yang wadang tetapi juga wakil kawruh urip yang harus dicerna oleh kedua mempelai lewat keseluruhan pagelaran.

Hakekat pesan ini secara transparan diutarakan lewat lewat lagon diawal pertunjukan Beksa Lawung sebagi petuah sultan tentang perkawinan yang diakhiri dengan simbol kesuburan . Dalam Beksa lawung disimbolkan dengan tongkat atau lawung, dan perempuan dilambangkan dengan tanah.

Tanah sebagai bumi sering disebut ‘ibu pertiwi’, lambang keperempuan. Dalam latihan Beksa lawung diberikan kepada prajurit-prajurit peleton/pasukan Trunajaya sehingga Beksa Lawung atau Beksa Trunajaya itu berubah menjadi Beksa lawung ageng dikarenakan hadir Beksa lawung alit dan Beksa Sekar Madura sebagai bvagian dari beksa lawung secara keseluruhan.

Sebagai akibat orang seringkali menyebut Beksa lawung diidentikkan dengan Beksa lawung ageng. Pada tahun 1918 berdiri perkumpulan Kridha Beksa Wirama, sehingga Beksa lawung boleh dipergelarkan dan diajarkan kepada orang lain di luar Kraton atas izin Sultan Hamengku Buwana VII.

Sejak itulah kesenian istana, khususnya Beksa Lawung, makin banyak diminati dan maju pesat. Perkembangan selanjutnya Beksa Lawung dipentaskan untuk para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga terjadi pemadatan waktu pentasnya. (*)