Pj Gubernur Sulsel Akui Kewalahan Lunasi Utang Warisan Andi Sudirman Sulaiman

INDEKSMEDIA.ID – Pj Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Bahtiar Baharuddin mengaku kewalahan melunasi utang warisan era mantan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman (ASS) yang menyebabkan APBD mengalami defisit senilai Rp 1,5 triliun.

Bahtiar berceletuk Kantor Gubernur Sulsel bisa ditutup jika memaksakan utang itu dilunasi tahun ini.

Dia menegaskan persoalan ini akan diselesaikan secara bertahap. Pasalnya Pemprov Sulsel masih punya potensi utang yang bertambah hingga Rp 1,6 triliun berdasarkan yang tertuang dalam Rancangan APBD tahun 2024.

“Saya masih punya utang lagi yang menyeberang di tahun depan, karena kalau saya bayar semua sekarang tutup kantor gubernur,” kata Bahtiar di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Kamis (12/10/2023).

Bahtiar mengatakan salah satu cara untuk menutupi kondisi defisit tersebut adalah menghemat anggaran belanja Pemprov Sulsel. Dia menuturkan akan mengawasi langsung arus kas keuangan Pemprov Sulsel.

“Nah, ini menumpuk mi sekarang ini (utang). Maka caranya penyelamatannya, ya, rem mendadak (menghemat anggaran belanja). Teman-teman mulai hari ini tidak ada pengeluaran sembarangan. Saya catat semua, saya cek semua uang yang masuk, cek uang keluar,” jelasnya.

Dia menganalogikan kebijakan menyetop belanja hanya untuk program yang tidak bisa masuk skala prioritas. Bahtiar menyebut kebijakan penghematan ini berlaku hingga akhir Desember 2023.

“Makanya saya mulai kemarin, hari ini, teman-teman pegawai di provinsi puasa. Tidak apa-apa, yang penting saya juga ikut puasa. Sama ji kan, sama-sama puasa. Kecuali saya sebagai gubernur tidak memberi contoh, (tapi) saya kasih contoh,” ungkapnya.

Bahtiar mengklaim strategi penghematan tersebut adalah cara yang cukup efektif dengan situasi seperti ini. Sebagai pemimpin Sulsel, dia berkomitmen untuk mengatasi masalah ini.

“Jadi kita buat ini saja, buat mudahnya saja. Ini memang harus kita lakukan sebagai pemimpin, sebagai nakhoda provinsi menyelamatkan pemerintah provinsi, ya itu caranya,” bebernya.

“Tanggung jawab ini harus dilakukan karena saya tidak bisa bilang bahwa ini bukan kerjaan saya. Pemerintah ini adalah satu rangkaian keberlanjutan,” lanjut Bahtiar.

Dia menuturkan masalah defisit Rp 1,5 triliun ini pada dasarnya merupakan urusan internal Pemprov Sulsel. Namun bagi Bahtiar, hal ini perlu untuk diketahui oleh publik.

“Jadi ini urusan internal kami sebenarnya di pemerintahan. Jadi kami sedang berhemat belanja demi menyelesaikan utang-utang yang ada sama pemerintah daerah,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Bahtiar menyebut Sulsel dalam kondisi bangkrut. Hal ini dikarenakan adanya defisit anggaran sebesar Rp 1,5 triliun karena ada utang yang belum dibayarkan.

Potensi utang Pemprov Sulsel pun masih bisa bertambah hingga mencapai Rp 1,6 triliun tahun mendatang. Hal inilah yang menjadi penyebab Bahtiar menolak RAPBD 2024 yang diproyeksikan sebesar Rp 10,466 triliun lantaran masih ingin mengkaji ulang pos belanja Pemprov Sulsel.

“Kalau kita memang punya rencana belanja APBD Rp 10,4 triliun, kurangi memang meki ini utang ta’ ini. Kan kita sudah ada potensi (utang) 1,6 triliun,” sebut Bahtiar. (*)