https://www.zeverix.com/

INDEKS MEDIA

Berita Hari Ini Di Indonesia & Internasional

Palopo Baru untuk Sampahnya yang Masih Lama

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – “Palopo Baru.” Begitu tagline yang dulu lantang didengungkan saat musim kampanye. Warga bertepuk tangan, baliho terpasang di mana-mana, harapan pun mengudara.

Namun rupanya, yang baru hanya slogannya. Sampah di berbagai jalan seperti di Y.Tando, Wara Utara, tumpukan sampah depan rumah warga dekat SDN 35 Lamandu, Area To’bulung sekitar kantor PU dan Dinas Kebersihan, Pantai Labombo kawasan wisata yang kerap terdampak kiriman sampah hingga disekitaran pasar sental kota Palopo.

Tentu semua hal ini masih yang lama. Got yang mampet juga masih yang lama. Dan kebiasaan buang sampah sembarangan? Sudah pasti, masih yang lama.

Warga Kota tau tapi tidak mau.
Sebagai aktivis dan pegiat Bimbingan dan Konseling, saya punya diagnosis sederhana bahwa masalah sampah ini bukan hanya krisis lingkungan tapi juga krisis perilaku.

Papan larangan sudah dipasang namun tangan tetap melempar. Mobil pengangkut sudah disediakan orang masih buang di got. Pak Wakil Wali Kota sudah turun langsung, anehnya baru saja dibersihkan, belum satu jam sudah kotor lagi.

Di BK, ini disebut kesenjangan kognitif-perilaku. Tahu itu salah, tapi tetap dilakukan. Kenapa? Karena tidak ada konsekuensi yang terasa. Buang sampah sembarangan? Paling-paling tetangga pasang tulisan dengan tanda seru tiga biji yang diabaikan dengan sangat khidmat.

Pemerintah Juga Perlu Konseling
Namun sebagai calon konselor yang diajarkan melihat masalah dari semua sisi, saya tidak bisa pura-pura tidak melihat satu hal: Pemerintah kota sangat semangat mengarak piala Adipura yang sudah diraih seingat saya sudah sembilan kali keliling kota.

Pertanyaannya, semangat yang sama ke mana waktu TPS meluber ke badan jalan dan warga hanya bisa mengeluh di media sosial?
Sembilan Adipura diraih. Tapi produksi sampah 90 ton per hari dikelola dengan tambahan dua unit mobil sumbangan dari Bank Sulselbar.

Dua unit. Untuk 90 ton. Silakan hitung sendiri matematikanya. Program ada: Jumat Bersih, Sedekah Sampah, Surat Edaran. Bagus. Tapi surat edaran tidak bisa mengangkat sampah. Kalau pendekatan kita hanya terus membuat aturan tanpa menyentuh akar masalahnya, itu bukan tata kelola kota, itu administrasi yang sibuk sendiri.

“Baru” Itu Mustinya Terasa, Bukan Hanya Terdengar Jadi begini kondisinya, warga buang sampah sembarangan, pemerintah sibuk pencitraan . Dua-duanya bermasalah, dan dua-duanya butuh duduk di ruang konseling yang sama.

“Palopo Baru” seharusnya bukan sekadar tagline pemenangan. Ia harus menjadi komitmen perilaku dari warga maupun pemimpinnya. Kita butuh budaya malu yang nyata: malu buang sampah sembarangan, dan malu pencitraan sementara sampah menggunung dan got-got masih tersumbat plastik kresek.

Sampahnya masih ada. Slogannya masih kedengaran. Yang belum jelas kapan keduanya akhirnya tidak lagi berjalan beriringan.

Penulis Pegiat Bimbingan dan Konseling yang lebih sering mengonseling dirinya sendiri setiap kali melewati tumpukan sampah di jalan-jalan Palopo yang katanya sudah “baru.”

Penulis : “Ugha” Anugrah (Aktivis dan Pegiat Bimbingan dan Konseling)

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!